Monday, August 5, 2013

La Tahzan(Jangan Bersedih), a movie review

Siapa sih yang mau digantungin dan siapa juga yang mau ngejalanin hubungan tanpa status? Ya kondisi itulah dialami oleh Hasan dan Viona, tokoh pada film La Tahzan. Film ini terinspirasi dari buku yang berjudul sama yaitu La Tahzan yang artinya jangan bersedih.

Hasan(Ario Bayu) dan Viona(Atiqah Hasiholan) sudah sekian lama menjalin hubungan dekat, tapi entah kenapa mereka tidak pernah mengungkapkan persamaan mereka satu sama lain. Viona sendiri beranggapan Jepang adalah negara yang warganya disiplin, lebih teratur(beda banget ya dengan Indonesia, ya iyalah), tempat dia bisa mencapai keinginanannya melanjutkan studi ke jenjang S2. Karena keinginan itulah dia belajar bahasa Jepang hingga akhirnya dia bisa mendapatkan kesempatan belajar sambil bekerja di Jepang.

Hasan anak lelaki dari seorang single parent yang harus berjuang menghidupi keluarganya setelah ayahnya meninggal dan ibunya sakit-sakitan. Hasan menjadi terlibat pinjaman uang yang sangat besar dan terpaksa menjual bengkelnya demi melunasi hutang-hutangnya dan pergi ke Jepang sebagai TKI. Pada akhirnya Hasan sadar bahwa pekerjaan yang dia lakukan ada pekerjaan kasar, pekerjaan kelas kuli dan bukan pekerjaan yang di idam-idamkan(kayaknya ini adalah impian semua TKI yang mau kerja keluar negeri, kerja enak dan gaji besar tapi akhirnya jadi kuli di dera dan di siksa).

Budaya orang Jepang yang sangat disiplin dan menghargai waktu menjadi pelajaran buat Viona, ketika ia berangkat untuk bekerja di sebuah restoran Sushi kecil ia terjatuh dari sepeda dan di tolong oleh Yamada(Joe Taslim), seorang fotographer freelance blesteran Jepang-Indonesia. Yamada menjadi tokoh yang mempertemukan kembali Hasan dengan Viona setelah keduanya berpisah lebih dari 6 bulan dan tanpa ada kabar sama sekali. Ketika Hasan dan Viona kembali bertemu dari situlah mereka sadar bahwa ada perasaan lain di antara mereka dan tidak pernah mereka bisa ungkapkan. Puncaknya ketika Yamada melamar Viona untuk menjadi istrinya dan Yamada menetapkan pilihan untuk mengikuti agama Islam, agamanya Viona, Hasan mengatakan kepada Viona demi masa depan dan anak-anakl Viona nantinya pastikan Yamada masuk Islam, Hasan bahagia bila Viona bahagia(pria mana yang hatinya tidak remuk redam berkeping-keping, bila ada wanita yang dicintainya menikah dengan pria lain, hehehe karena gua sendiri juga pernah merasakannya, dramatis sedikit masa tidak boleh).

Yamada mantap untuk masuk Islam dan menjadi mualaf, dalam perjalanan menuju Kobe tempat Yamada bersiap untuk menjadi mualaf Viona mendapatkan kabar bahwa ada paket dari Hasan. Viona kembali ke apartemen tempat ia tinggal selama di Jepang, Viona membuka paket dari Hasan dan kaget paket tersebut berisi cincin yang ia idam-idamkan, Yamada kaget ketika melihat cincin pemberian Hasan untuk Viona. Yamada mengajak Viona ke sebuah taman dan mengatakan bahwa ia salah, tidak seharusnya ia di antara Hasan dan Viona dan tidak masuk Islam hanya karena ingin menikah dengan Viona karena sama mempermainkan agama(entah kenapa ya orang Jepang gampang masa bodoh banget soal agama, lahir sebagai penganut Shinto, menikah secara Kristen, dan meninggal sebagai penganut Budha). Viona menemui Hasan di Pelabuhan Kyoto, disanalah sebuah rahasia kenapa Hasan pergi meninggalkan Viona begitu saja tanpa kabar dan kenapa Hasan mengundurkan diri dari tempat ia bekerja pertama kali hingga ia menjadi target operasi polisi imigrasi Jepang. Seperti pada ending film romantis di mana tokohnya bersatu kembali dan hidup bahagia, begitu pula dengan Viona dan Hasan, cinta mempersatukan mereka menjadi kekasih yang masih berpegang pada norma agama(ga kayak abg jaman sekarang yang sudah ga peduli lagi dengan norma agama yang penting nikmati hidup)

Film La Tahzan, di adaptasi dari novel yang berjudul sama La Tahzan pada chapter yang berjudul Pelajar Setengah TKI. Film bergenre drama religi memberikan beberapa pelajaran yang dapat kita petik, antara lain:
  1. Jangan pernah menjalankan hubungan tanpa status atau menjadikan teman/dijadikan TTM(Teman Tapi Mesra). Gua sendiri pernah ngalamin kondisi kayak gini jadi TTM malah akhirnya TTTM(Teman Tapi Tidak Mesra).
  2. Kalau memang cinta sudah cocok satu sama lain ungkapkan saja ga usah menunggu siapa yang bakal ungkapin duluan jaman sekarang juga udah banyak cewek yang ngungkapin perasaannya ke cowok.
  3. Jangan beranggap bila kerja di negeri orang hidup kita enak, apalagi kalau kemampuan otak kita pas-pasan dan ga punya kemampuan sama sekali.
  4. Agama tidak boleh dipermainkan, jangan berpindah agama hanya karena syarat untuk bisa menikahi pasangan kita.
  5. Dalam menjalani hubungan berpatokanlah kepada norma masyarakat, norma susila, dan norma agama karena bisa menyelamatkan kita dari bahaya besar.
  6. Jadi seperti buah Orenji, terlihat bagus dan manis di luar tapi kecut di dalam
Dari sisi ceritanya filmm produksi Falcon Picture dan disutradarai Danial Rizki mudah untuk diikuti, walaupun memperlihat kehidupan orang Jepang dan kisah percintaan masih ada unsur-unsur religinya. Soundtracknya full di isi oleh lagu-lagu religi yang dinyanyikan oleh Alm Uje. Film ini cocok juga dalam menyambut hari raya Idul Fitri mengajak kita untuk La Tahzan(jangan bersedih).

"Janganlah kamu berduka cita, sesungguh Allah bersama kita".
(Q.S At Taubah:40) 


No comments:

Post a Comment

Tiket Bus Dengan Format Ms. Excel

 Hi Teman-teman, Udah lama buangeeetttt ga update blog ini dan mungkin juga udah di anggap ilang sama Google.  Mumpung ada energi positif bu...