Tapi ketika menikah mentok pada satu perselisihan yang tak mampu diselesaikan berdua, belibet dan panjang urusannya. Mengorbankan rasio, logika, cinta, bahkan tak takut yang namanya janji suci, semua sirna hanya demi satu ego atas pengakuan “bahwa aku yang paling benar”. Memaafkan dan minta maaf adalah hal yang paling dilupakan, kadang-kadang lupa bahwa sebelum ini saling menyayangi. Mengakui kesalahan untuk mengakhiri perselisihan adalah pantang dilakukan, sepanjang masih punya stok kata-kata untuk saling menjatuhkan, mari kita lanjutkan.
Jika awalnya orang yang paling disayang, tiba-tiba berubah menjadi musuh yang harus dikalahkan, gambaran tentang menikah yang ditakutkan sebagian orang, yang pernah aku temui. Jika sudah begini, bertemu kembali orang yang pernah singgah dihati akan membuat sedikit merubah lara, tapi memperpanjang derita. Intinya sama saja, tidak akan memperbaiki keadaan, hanya akan membuat berpikir bahwa keputusan untuk menikah adalah satu pilihan yang salah, pendek kata salah pilih orang untuk dibawa menikah. Dan panjang katanya ingin di akhiri saja dan mulai lagi yang baru. Hadeh….
Berharap semoga menikah yang tak sederhana ini akan tetap kembali pada penyelesaian yang sederhana saja, agar tak berujung pada masalah pelik yang siap menggantikan. Karena segala sesuatu yang diawali dengan hal tidak baik, hasilnya tidak baik juga.
No comments:
Post a Comment